Logikanya

 

 

 

 

 

 

 

Kau, tidak seperti yang pernah kukenal.
Begitu cerah,
begitu ceria.
Sekilas, kau mungkin seperti bajingan tengil.
Tapi, kau tersenyum layaknya anak kecil menemukan balonnya kembali.

Kau mungkin tak tahu,
bahwa setiap keisenganmu justru memberi warna di siangku yang kelabu.

Lalu, di saat langkahmu dan langkahku bertemu,

seolah adegan di atas panggung yang dicipta dunia

Mungkinkah dunia bermaksud sengaja?

Tidak.
Bagiku cukup saja sapamu.

Karena, logikanya, dunia tak akan membiarkan kau dan aku berjalan beriringan.

Advertisements

Leave a comment

October 22, 2017 · 4:24 pm

kau dan rintik hujan

tumblr_nl7sc8gkqb1rpb1vjo1_500

 

katamu, hanya ada sebuah irama sempurna

yang awalnya punya tempo pelan

dan perlahan menjadi cepat

tapi kau tak menari

kau hanya diam

terpejam

jiwamu larut sampai dalam

 

Kau dan rintik hujan.

 

-Ria-

 

 

Leave a comment

Filed under A Bite of Story

Secangkir Latte untuk Zuni

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

 

coffee you

 

Zuni menyesap latte-nya yang masih panas. Asapnya mengepul hingga membuat pori-pori hidungnya sedikit terbuka. Untungnya, Zuni sudah menggunakan BB cream terhebat tadi siang, jadi tidak perlu khawatir pori-pori hidungnya akan tampak jelas. Lagipula aku lagi nggak difoto, kan.

 

Zuni membalik-balik halaman majalah White Space. Majalah wajibnya akhir-akhir ini. Didalamnya seperti sebuah surga ide bagi penyuka fotografi seperti Zuni, banyak sekali foto-foto dengan tema natural yang menginspirasi. Sementara itu, Jari-jarinya menyentuh salah satu halaman yang menampilkan foto padang ilalang yang tertimpa sorot matahari sore. Kemudian beralih ke foto dinding abu-abu dengan sebuah skuter putih didepannya. Foto-foto itu adalah karya Dimas Dirgahayu, fotografer idolanya.

 

Kemudian dielus-elusnya halaman majalah White Space, sambil tersenyum-senyum. Rasa cinta Zuni pada foto-foto Dimas, sama seperti rasa sukanya pada kafe yang ia singgahi saat ini. Dinding abu-abu, dan kursi-kursi kayu yang didudukinya, dan tanaman-tanaman dalam pot mungil di pojok jendela. Kafe ini selalu memberikan nuansa natural yang disukainya.

 

Pot and Seed namanya, sebuah dunia kecil dimana Zuni dapat sepenuhnya bersantai dan menjadi dirinya sendiri. Tak peduli harga kopinya yang murah dan tempatnya yang mungil, disini Zuni bisa menyesap latte terbaik dengan damai, tanpa harus menggunakan baju terkini dan bersikap glamor. Sebabnya, Pot and Seed bukanlah kafe fancy yang harus ia iklankan.

 

Hampir setiap sore, Zuni mampir ke Pot and Seed dan kali ini ia bersama kamera DSLR dan majalah-majalahnya. masih membandingkan hasil jepretannya dengan jepretan Dimas Dirgahayu. Jauh banget bedanya. Tentu saja, dirinya sadar baru akhir-akhir ini mendalami kembali fotografi.

 

Lalu, Zuni tak habis pikir, bagaimana seorang Dimas bisa sangat baik memotret. Apakah dia harus bertemu Dimas dan menjadi muridnya? Mungkin itu ide bagus, Tapi, kalau harus berguru dengan Dimas, kenapa sekarang dirinya malah menjadi selebgram lifestyle?

Sebetulnya Zuni memang menyukai fotografi sejak SMA, tapi sekarang ia sudah keburu menjadi selebgram lifestyle. Sudah terlambat untuk belajar fotografi gaya natural. Sebagian besar orang sudah mengenalnya sebagai selebgram lifestyle yang glamor.

Aaah… Kenapa baru sadar sekarang? Seketika, mood Zuni beralih suram.

 

“Mbak, itu mukanya kenapa? Kok cemberut. Nanti cepat keriput loh.”

Laki-laki itu muncul lagi. Penampilannya seperti biasa, lengan kemejanya digulung, memakai celemek cokelat tua, perawakannya tinggi dan ramping.

“Diam kamu.” Tukas Zuni. “Nasehat kamu tuh nggak ngefek tau.”

“Tuh, kan, disuruh senyum aja nggak mau, gimana mau cantik?”

Laki-laki itu masih berdiri di samping mejanya, lalu ia membungkuk ke arah meja.

“Ih, apa sih?” Zuni merasa risih.

“Kamu bawa kamera? Oh, lagi belajar fotografi ya? Hahaha, hebat. “

“Hmm, tapi komposisimu masih jelek tuh.”

Sekarang, laki-laki itu menunjuk ke arah foto-fotonya.

“Hei, Didi, kalau bukan fotografer nggak usah komentar deh. Jadi barista yang benar saja sana!”

“Huh, kata siapa nggak bisa fotografi.”

Laki-laki itu pun kembali tegap, memasang tampang bete lalu berbalik pergi.

 

Barista aneh, pikir Zuni. Bukannya Zuni tidak mau mengobrol dengan para barista, tapi kadang-kadang Didi benar-benar mengusik kenyamananya. Padahal kafe ini sudah paling nyaman untuk menyendiri.

**

 

Keesokan harinya, setelah selesai sesi foto instagram dengan temannya yang juga fotografer, Zuni buru-buru pergi ke Pot and Seed lagi.

“Bima, aku duluan ya!” Zuni beranjak dari kursi dan mengambil tas slingbag-nya.

“Lho, emangnya mau kemana, Zun? Buru-buru banget.”

“Emm, aku ada kursus make-up nih, Bim. Bye!”

Zuni menginjak gas mobilnya, meninggalkan pelataran parkir kafe Tuscany. Kafe yang baru saja diambil fotonya agar diiklankan di Instagram. Kepada Bima, Zuni berbohong akan kursus make-up, sebenarnya Zuni hanya ingin membuat kliping foto-fotonya di Pot and Seed.

 

Sesampainya di Pot and Seed, Zuni langsung bergegas ke meja favoritya di pojok ruangan. Meja itu tidak secantik meja kayu di Tuscany, tetapi sangat nyaman baginya. Meja itu dekat dengan jendela dan dilatari dengan dinding berlukiskan sketsa burung-burung kenari dan sebuah pohon.

“Hai mbak Artis, mau pesan apa hari ini?” Didi menghampiri meja Zuni.

“Artis? Sok tau deh masnya, saya bukan artis.”

“hmm, kalau bukan artis, berarti mbak selebgram ya?”

“hah….hahaha, udah deh, Di. Kamu kadang suka ngga penting deh. sudah cepat sana buatkan aku latte yang biasa kupesan.” Zuni berbohong lagi.

 

Tujuh menit kemudian, Didi membawa secangkir latte ke hadapan Zuni.

“Ini dia latte terbaik di Pot and Seed spesial untuk Nona Zuni yang paling cantik.”

Mendengar Didi, dahi Zuni jadi mengernyit. Kemudian Didi duduk pada kursi di hadapan Zuni dan mencondongkan badannya ke arah Zuni.

“Dan satu lagi untuk Nona Artis yang cantik ini, jangan-lupa-tersenyum.”

Didi mengatakannya sambil menarik pipi dengan telunjuknya, menggambarkan senyum di wajahnya.

“Iya..iyaa, terima kasih! Sekarang, bisa kau pergi dari meja ini, tuan barista?”

Zuni memelototi Didi. Kemudian Didi mengembalikan posisi badannya, dan menatap heran kepada Zuni sambil berlalu pergi.

“Ck ck ck, galak amat, sih.”

 

Zuni tak peduli pada Didi, dan mengeluarkan foto-fotonya. Kemudian menyesap lattenya. Walau menyebalkan, Didi benar. Tidak ada latte yang terbaik selain di kafe Pot and Seed. Sekalipun di kafe yang paling mahal yang pernah ia iklankan. Hanya saja, Didi selalu mengurangi kenyamanannya bersantai di kafe ini. Namun, irnonisnya Didi lah yang membuat latte terbaik itu.

**

 

Dua puluh menit berlalu, Zuni masih menempelkan foto-fotonya di sebuah album.

“Maaf, Nona pelanggan setia yang cantik, bolehkah saya duduk di kursi ini sekali lagi? “ Lagi-lagi Didi menghampirinya. Apa boleh buat?

“Plis, stop pake imbuhan “cantik” Tuan Barista. Ada apa, sih?”

“Begini Zuni, kau kan sudah sering ngopi disini. bagaimana pendapatmu tentang kopi disini?” Tumben Didi berbicara normal, pikir Zuni. Biasanya dia selalu melantur.

“Kopi disini, sangat enak dan menurutku, nggak ada kafe yang bisa nyaingin, lho. Itu untuk latte, kopi yang sering kupesan.” Zuni berkata jujur.

Mendengar Zuni, wajah Didi sumringah. Seketika, wajah Zuni pun ikut menjadi cerah sampai Didi melontarkan pertanyaan lainnya.

“Aaa, aku senang kau lebih memilih Pot and Seed, Zuni.”

“Dan karena kau penggemar kopi kami, apakah kau mau mengiklakan kafe ini?”

Beberapa detik hening, dan raut wajah Zuni pun kembali muram.

“Zuni, aku baru saja tahu kalau kau itu selebgram.”

“Didi, kan tadi sudah kubilang kalau aku bukan artis atau selebgram.”

“Lihat deh Zuni, ini kamu kan?” Didi menyodorkan smartphone-nya yang sedang menayangkan halaman instagram Zuni.

“Emm itu… Ya.. Kau benar.” Dengan terpaksa, Zuni mengakuinya, Ia gagal berbohong.

“Jadi, Zuni, kau mau kan?”

“Emm, sepertinya aku nggak bisa.”

“Lho, memangnya kenapa?”

“Kafe ini terlalu sederhana bagiku. Kau tahu, aku hanya mengiklankan kafe-kafe fancy.”

“Apa..?” Didi menganga, ekspresinya heran.

“Ohoho, lihat nona ini, sombong sekali dia.” Didi menunjuk-nunjuk Zuni.

“Aku bukan sombong, Di. Ini namanya kriteriaku.” Kata Zuni sambil melipat tangan, lalu membereskan barang-barang dan memasukkannya ke dalam slingbag-nya yang berwarna hitam.

“Daah Didi, terima kasih untuk latte-nya.”

“Hei, Zuni..!” dipanggilnya Zuni, tapi ia tak mengacuhkan dan berjalan keluar kafe.

**

 

Sejak saat itu, Zuni tidak pergi ke Pot and Seed lagi. Obrolan terakhirnya dengan Didi malah membuatnya menjadi benar-benar tidak nyaman. Di Pot and Seed Dirinya hanya ingin menjadi seorang Zuni biasa, tapi Didi malah memintanya berlaku seperti selebgram.

 

Lebih baik Zuni memotret di taman kota. Menggunakan waktu luangnya untuk kembali menjadi seorang Zuni yang tidak glamor, walaupun sudah terlambat menurutnya. Dirinya pun mendapatkan foto-foto bernuansa natural, seperti Dimas Dirgahayu. Sesekali, Zuni menengadahkan wajahnya ke langit, membiarkan sinar matahari menimpa wajahnya. Zuni berharap, dirinya bisa memotret bersama fotografer idolanya.

**

 

Tiga minggu berlalu. Kini, sore hari Zuni tidak pernah dihabiskan di Pot and Seed lagi, hanya di balkon apartemennya. Sebaik apapun usaha Zuni untuk membuat latte sendiri, tidak pernah seenak yang dibuat Didi. Kadang-kadang, Zuni juga membeli latte di kafe-kafe yang mengendorsenya, tapi rasanya sama saja.

 

Ketika Zuni membeli biji kopi sendiri pun rasanya tidak seenak buatan Didi. Itu juga salahnya sendiri mengapa dulu tidak pernah bertanya pada Didi tentang café latte.

Seduhan kopi secangkir café latte mungkin tidak sesederhana yang ia bayangkan. Zuni tidak pernah bertanya tentang jenis kopi, alat penyeduh yang digunakan oleh Didi dalam menyeduh kopi, hingga susu untuk campurannya. Kini, kalau mau bertanya, Zuni sudah malas bertemu Didi. Tapi ia butuh tahu, butuh kopi. AAAH!

 

Zuni memutuskan untuk datang lagi ke Pot and Seed. Kalau Didi bertanya lagi apakah ia ingin mengiklankan kafenya, ia tetap akan menolaknya.

Dibukanya pintu masuk Pot and Seed. Aroma kopinya yang khas menyambut Zuni.

“Halo, kak Zuni! sudah lama ya. Pasti sudah kangen café latte kami kan?” tanya seorang barista dibalik bar.

Zuni hanya mengiyakannya dan melihat-lihat ke seluruh sudut kafe. Tapi tak ditemukannya Didi. Padahal, biasanya Didilah yang pertama menyambut Zuni.

Beberapa menit kemudian, latte disajikan untuk Zuni.

“Didi sedang libur, ya?”

“Ya, dia absen cukup lama di sini.”

“Oh ya? apa kau tahu dia kemana?”

“Aku tidak tahu pastinya, Kak. Selamat menikmati kopinya, ya.“

 

Barista itu kembali ke bar. Zuni pun menyesap kopinya. Rindunya akan rasa latte yang selama ini ia tahan, terlepas juga. Hanya saja ada yang beda dari latte yang biasa ia pesan. Latte art di cangkirnya. Latte art hari ini berbentuk angsa. Sedangkan sebelumnya, Latte art-nya selalu berbentuk hati. Perasaan Zuni bergolak, tapi ia tidak tahu apa artinya itu.

 

Perlahan, Zuni merasakan hampa, seperti cangkirnya yang telah kosong, Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia pun beranjak dari kursinya, dan melangkah. Tapi barista tadi memintanya untuk tidak pergi dulu, lalu menghampirinya.

“Kami punya hadiah spesial untuk pelanggan kami yang setia.”

“Kami memberi satu undangan pameran foto Dimas Dirgahayu, dan dengan undangan ini, kakak bisa minum kopi kami gratis disana.” Barista itu menyodorkan selembar kertas agak tebal kepada Zuni.

“Benarkah? Aku maauuuu!” Zuni kegirangan dan langsung menarik lembaran undangan itu dari tangan barista. Dilihatnya sekilas lembaran itu.

“Tapi, sejak kapan kalian mengenal fotografer Dimas?” tanya Zuni heran.

“Kakak akan tahu kalau menghadiri pameran ini, hehehe.” Jawab barista tadi. Sedikit aneh bagi Zuni, tapi ia tidak peduli, yang penting ia bisa bertemu dengan Dimas di pameran itu.

**

 

Hari pameran foto Dimas Dirgahayu telah tiba. Pameran itu diselenggarakan di sebuah galeri di pusat kota. Zuni yang sangat antusias itu mengenakan dress hitam dengan syal motif batik berwarna dasar putih. Ia melangkah mantap memasuki pintu galeri, tapi tangannya sedikit gemetaran. Mungkin dirinya terlalu antusias.

Hari ini aku akan bertemu Dimas!

 

Pameran fotografi itu berjudul “Pojok Surga ada di Kenawat”. Zuni melihat posternya di area pintu masuk. Selanjutnya, Zuni membiarkan dirinya terkesima melihat foto-foto Dimas di lorong galeri. Sementara itu, semerbak kopi yang tidak asing tercium olehnya. Pot and Seed, pikirnya. Tidak disangka, kafe sekecil itu bisa bekerja sama dengan fotografer sekelas Dimas. Lalu, dimana Dimas?

 

Zuni terus menyusuri lorong galeri yang dihiasi foto-foto yang bercerita Kampung Kenawat. Sesekali ia terpaku menatap foto-foto itu, sesekali deg-deg-an karena ia akan bertemu Dimas. Mungkin Ia ada di suatu lorong tertentu, pikirnya.

“BRUKKK.”

Tidak sengaja Zuni menabrak seorang laki-laki di belakangnya. Laki-laki itu berbalik.

“Maaf, Mas, saya nggak lihat-lihat, terlalu fokus sama Foto di…. DIDI??”

“ZUNI!”

Laki-laki itu kini menyengir. Ia memakai kemeja hitam dan celana krem, rambut ikalnya benar-benar dibuat klimis. Didi benar-benar berbeda hari ini.

“Lho, kamu suka lihat pameran juga, Di?”

Beberapa detik setelah Zuni melontarkan pertanyaan itu, orang-orang yang berada di sekitar Zuni berbisik dan cekikikan. Sepertinya mereka sedang menertawai dirinya.

“Oh, iya dong. Kan, aku yang punya ide pameran ini.” Didi menjawab jahil dan menambah konyol situasi itu.

“Plis deh, Di. Udah dong. Eh, ngomong-ngomong apakah kau sudah bertemu fotografer Dimas?”

“Untuk apa aku bertemu, kan Dimas itu aku.” Kali ini Didi menjadi super konyol.

“DIDI! BERHENTI BERCANDA!”

Zuni lagi-lagi dibuatnya kesal. Lalu, seorang wanita di sebelah Didi tiba-tiba berkata sambil menunjuk ke arah Didi, “Lho kan Dia memang Dimas Dirgahayu, Mbak. Dia memang orangnya begitu.”

“…….”

Zuni menatap wanita tadi dan Dimas secara bergantian tanpa berkata-kata. Mulutnya sedikit menganga. Sementara Dimas cekikikan.

“Sudah Zuni, Yuk kita ngopi dulu?” Dimas menawari. kemudian mengantar Zuni ke stall kafe Pot and Seed.

“Nih, latte kesukaanmu.” Didi menyodorkan sebuah cup kepada Zuni.

Zuni menerima cup itu dengan tangan kanannya, sementara pandangan matanya terarah ke wajah laki-laki yang berambut ikal klimis itu.

“Didi, yang benar saja kamu ini Dimas?”

“Zuni, kau tahu? Didi itu singkatan dari Dimas Dirgahayu.” Jawab Didi dengan cengirannya yang khas.

“Bohong.” Zuni menatap tajam Didi.

“Zuni, dengar deh, kopi di dalam latte-mu itu adalah kopi kenawat, dan sekarang aku sedang mempromosikan daerah Kenawat lewat karyaku.”

“Kalau begitu kau kenapa tidak pernah bilang dari dulu kalau kau adalah Dimas Dirgahayu?”

“Hei Zuni, kau lupa ya, kau pernah bilang aku bukan fotografer, kan?”

Zuni tidak segera menjawab pertanyaan itu, dirinya masih menatap Didi dengan setengah kesal dan setengah kagum. Sementara itu wangi latte campuran kopi kenawat itu menyebar di antara mereka. Didi masih menyengir dan itu membuat Zuni sebal, tapi entah mengapa itulah yang ia rindukan. Rasanya, Zuni ingin memeluk Didi sekarang.

***

6 Comments

August 21, 2016 · 4:50 am

Five Minutes More

For all dreamer guy, I dedicated this song for you all… 

 

Dear, this evening seemed to go so awfully fast
We had so much fun and now you’re home at last
I look forward to a kiss or two at the garden gate
But she gave me just one peck and insisted it was late

Give me five minutes more, only five minutes more
Let me stay, let me stay in your arms
Here am I, begging for only five minutes more
Only five minutes more of your charms

All week long I dreamed about our Saturday date
Don’t you know that Sunday morning you can sleep late?

Give me five minutes more, only five minutes more
Let me stay, let me stay in your arms

All week long I dreamed about our Saturday date
Don’t you know that Sunday morning you can sleep late?
Give me five minutes more, only five minutes more
Let me stay, let me stay in your arms

(Songwriters: Cahn, Sammy / Styne, Jule)

and for all ladies.. be ready to these dreamer guys, who wants to be pampered by you, and they wish they can lay down his head on your shoulder every minute, every day, or more. 

 

 

Leave a comment

Filed under My Playlist

Green Light

We weren’t anything special, we were just friends
But then I started seeing you more often than my best friend
It’s like green light

Should I call you first? Or should I wait a little more?
Before we go to sleep, I want to call you
And talk about our deep feelings all night

Green light
I got a feeling, this is probably a
Green light
It feels good
Green light
It has come, the highlight of my life

I still don’t know what’s going to happen
But for some reason, I think
We’re better off as lovers than friends

What if you’re the only one like this?
My friends worried about me but now
Everyone says
These days, you two look like green light

Your light jokes that you playfully throw at me
It confuses me, it shakes me up
Your natural physical contact makes my heart tremble

Green light
I got a feeling, this is probably a
Green light
It feels good
Green light
It has come, the highlight of my life

I still don’t know what’s going to happen
But for some reason, I think
We’re better off as lovers than friends
Better off as lovers than friends
Better off as lovers than friends

Even when I space out, when I think about you, my heart trembles
All day, I wait for your call

I hope we both feel the same way
From now on and on and on and on

Ra.D is a great singer altough his MV not popular and has a few viewers, his lyric also simple, sweet, but deep. Well, i prefer listen to this kind of (K) music.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Blacky

Ranti duduk di atas kursi besi bercat putih yang sudah menahun.  Di depannya, ada meja kecil yang serupa dan Ranti meletakkan secangkir teh chamommile panas diatasnya. Lalu, Ranti diam sejenak, merasakan seberkas sinar matahari sore yang jatuh di pipinya. Hangat.

Rambutnya pun terurai karena hembusan lembut angin sore. Sementara itu, daun-daun di pepohonan juga bergoyang gemulai. Di samping dirinya, bunga-bunga krisan berwarna fuschia dan kuning muncul dari permukaan pot-pot kecil yang dijajarkan di sepanjang pagar beranda.

Sore favoritku. Pikirnya.

Ranti mulai membuka lembaran buku dengan jemarinya, meresapi kalimat demi kalimat novel favoritnya, membiarkan dirinya hanyut ke dalam buku itu. Sesekali, Ranti menyesap teh chamommilenya.

“Praangg.”

Tiba-tiba salah satu pot bunga krisan menghilang dari jajarannya. Tanah berceceran menutupi sebagian lantai berandanya yang mengkilat. Sementara itu, pot bunga kecil miliknya telah menjadi puing-puing.

“Aduh, krisan fuschiaku!”

Ranti pun meletakkan novelnya, dan mengambil beberapa krisan yang kotor karena tanahnya sendiri.

“Sret.”

Ranti menoleh ke belakang, melihat sekelebat bayangan hitam masuk ke balik pintu kaca di balik berandanya.

Dengan sedikit rasa takut, Ranti segera bangkit, meninggalkan Krisan fuschianya di lantai. Lalu, ia berjalan perlahan menuju pintu kaca dan masuk ke ruangan dibaliknya. Ruangan itu agak gelap karena hari sudah mulai senja. Ranti pun menyalakan lampu.

Sekarang, ruangan itu terlihat jelas. Ranti melihat meja makannya yang juga bercat putih, dengan piring-piring sederhana yang ditata rapi oleh ibunya untuk makan malam, lengkap dengan sendok, garpu, dan..

“Sreet..!”

Serbet bercorak kotak-kotak merah tiba-tiba jatuh terseret ke lantai dari meja makan. Serbet itu pun bergerak-gerak di atas lantai. Ranti mendelik.

Secepat mungkin Ranti menarik serbet itu dari lantai dan.. “Miaaww” seekor kucing berbulu hitam sedang mendongakkan kepalanya ke arah ranti.

“Blacky! kemana saja kamu?”

Ranti pun tersenyum lega sambil mengelus-elus kucing kesayangannya.

credit: laurahughes-illustrator.tumblr.com

credit: laurahughes-illustrator.tumblr.com

flash fiction at Aksara,  October 10th 2015.

Keyword:  Bayangan, serbet, pot bunga, lampu

Leave a comment

Filed under A Bite of Story

Cafe 101

Sebuah Cerita Pendek.

image source: ariansstudio.blogspot.com

image source: ariansstudio.blogspot.com

 

“Satu cappuccino dan satu caramel latte untuk kalian berdua.”

Rico menaruh dua cangkir kopi untuk dua gadis yang sedang duduk saling berhadapan di sebuah meja kayu kecil di sudut kafe.

“Terima kasih Ricoo..” kata kedua gadis serempak, mereka terlihat sangat gembira.

you’re welcome.”

Seperti biasa, Rico selalu melayani pelanggan-pelanggannya dengan senyuman dan kopinya yang enak. Rico memang belum genap 27 tahun, tetapi mimpinya menjadi barista dan memiliki kafe sendiri telah ia wujudkan. Kafe mungilnya ia buka di garasi rumahnya sendiri dan diberi nama Café 101. Walaupun tidak besar, Café 101 selalu ramai pengunjung. Kebanyakan pengunjungnya adalah wanita, terutama gadis-gadis. Entah karena tampang Rico yang membuat para gadis selalu mampir ke kafe, atau memang karena kopinya yang enak.

Kalau memang karena dirinya tampan, Rico menganggap itu jadi nilai plus bagi kafenya. Rico tetap ingin gadis-gadis itu datang karena kopinya. Tetapi, mereka membuat Rico heran. Sebabnya mereka selalu memesan latte, mocha atau cappuccino. Selama dua tahun Rico membuka kafenya, belum pernah satu pun dari mereka yang pesan espresso atau kopi hitam. Apakah  perempuan benar-benar nggak suka kopi hitam? Rico selalu tak habis pikir.

Padahal Rico sendiri suka membuat kopi hitam. Pada awalnya, Café 101 dibuka dengan menu kopi hitam yang beragam dan Rico berharap Café 101 dikenal karena kopi hitamnya. Tetapi kenyataan justru sebaliknya. Sehingga Rico perlahan melupakan harapannya dan mulai menjalani kesehariannya sebagai pembuat kopi yang mengikuti selera pelanggannya. Namun, Rico tetaplah Rico, barista yang mencintai kopi hitam.

Suatu hari, jam menunjukkan pukul 9.30 malam. Saat itu, Café 101 sudah hampir tutup.

“Ting tong.”

Pintu Café 101 terbuka. Seorang gadis berambut pendek dengan langkah cepat masuk ke dalam dan mengambil meja di dekat dinding.

Melihat pelanggan datang, Rico langsung menghampiri dan menanyakan pesanan.

“Kalau tebakanku nggak salah, kamu pasti mau pesan caramel latte, kan?”

“Hah? Sok tau banget, deh. Latte? Itu bukan kopi namanya. Hmm, aku pesan espresso satu.” Gadis itu mengacungkan jari telunjuknya.

Mendengar pesanan gadis itu, Rico bukannya langsung mengiyakan, tetapi terdiam sejenak. Bingung sekaligus terharu. Baru kali ini ada gadis yang pesan espresso.

“Kok diam aja? Cepet dong, aku butuh kopi nih.” Melihat Rico, gadis itu komplain.

“O.. oke. Espresso saja, ya? Tunggu lima menit, nona.”

Rico segera berjalan menuju dapur untuk menyeduh espresso. Tak disangka, Rico menemukan gadis yang memesan kopi hitam di kafenya. Kemana saja dia selama ini? Pikir Rico.

 Tak lama kemudian Rico telah menyajikan secangkir espresso kepada gadis itu dan kembali ke dapur. Sambil mengelap cangkir, Rico memperhatikan gadis itu. Si gadis memakai parka warna krem, celana jeans dan sepatu boot ankle. Sementara tote-bag kanvasnya ia taruh begitu saja di meja. Gadis itu juga tidak pakai banyak make-up, hanya sedikit eyeliner di bagian atas mata. Dilihat dari penampilannya, menurut Rico umur gadis itu pasti tidak jauh dengannya.

Lalu sekarang, gadis itu mengeluarkan buku catatan dari tote-bag-nya dan mulai menulis sesuatu. Dia pasti gadis yang sibuk. Pikir Rico.

Setelah pukul 10.00 malam, Café 101 pun tutup. Sejak saat itu, tidak ada gadis yang memesan kopi hitam lagi di kafenya. Gadis penyuka kopi hitam itu pun tidak datang. Dua minggu telah berlalu, Rico pun gelisah. Hari–harinya kembali dipenuhi oleh pelanggan wanita yang memesan latte atau cappuccino.

Rico tidak hanya gelisah, tetapi juga mulai penasaran. Mengapa hanya gadis berambut pendek waktu itu yang beli kopi hitam? Rico pun teringat buku catatan yang ditinggalkan oleh gadis tersebut tempo hari. Lantas Rico terpikir untuk memberi tahu gadis itu bahwa bukunya tertinggal, agar gadis tersebut bisa kembali ke Café 101. Dibukanya halaman-halaman buku catatan si gadis, tetapi ia tidak menemukan nomor handphone satu pun. Alamat gadis itu juga tidak ditemukan. Rico hanya menemukan namanya di halaman pertama.

Nia Sarasvati.

Gadis itu membuat Rico penasaran. Rico ingin bertemu lagi dengannya.

**

Suatu sore, seperti biasa Rico sedang menyajikan kopi untuk para pelanggannya. Lalu seorang gadis bertanya, “Kak, disini ada wifi nggak?”

“Oh, maaf, disini belum ada wifi.” Rico menjawab dengan ramah.

“Yah, kalo gitu aku nggak bisa kirim e-mail, deh.” gerutu gadis yang bertanya tadi.

Mendengar gerutuan gadis itu, seketika Rico berpikir mengapa dia tidak mencari alamat e-mail Nia?

Rico kemudian membuka-buka kembali halaman buku catatan Nia, mencari–cari apakah ada alamat e-mail pemilik buku itu dan…..Bingo. Rico menemukannya di pojok halaman terakhir buku catatan Nia.

nia_sarasvati@gmail.com

Segera setelah menemukan e-mail itu, Rico langsung membuka laptopnya dan menulis e-mail untuk Nia.

 

Dear Nia,

Apa kabar?

Ini Rico, barista sekaligus pemilik Café 101 yang sebulan lalu kamu datangi. Salam kenal J

Kalau tidak salah, kamu datang Rabu malam dan memesan espresso. Semoga kamu masih ingat.

By the way, buku catatan kamu tertinggal di kafe dan waktu aku menemukannya, kamu sudah keburu pergi dari kafe.

Oya, aku menemukan alamat e-mail ini di dalam buku catatanmu. Sorry, kalau aku buka-buka buku catatanmu, tapi kupikir karena buku catatanmu ini penting, jadi mungkin kamu mau mengambilnya.

So, kapan kamu datang ke Café 101 lagi?

 

Salam hangat,

 

Rico.

 

E-mail tersebut berhasil dikirim oleh Rico. Selama sisa harinya, Rico terus membuat kopi sambil menanti balasan e-mail dari Nia. Terkadang Rico juga kembali membuka-buka halaman buku catatan Nia, dan ditemukannya catatan-catatan tentang kopi. Hal itu sungguh menarik perhatian Rico. Lalu pada halaman tengah buku, dimana Nia terakhir menulis catatannya, Rico menemukan tulisan:

 

Rabu, 16 Mei 2015

Café 101, Bandung 

Espresso: sedikit aroma cokelat. Well, datar banget! Aku nggak bisa ngejelasin, ini kopi apa..

 

Rico tertegun. Ternyata Nia membahas espresso buatannya tempo hari. Memangnya siapa dia? Apa dia seorang barista juga?

 

“Cling” Tiba-tiba muncul notifikasi di laptop Rico. Rupanya Nia telah membalas e-mail Rico.

 

Hei Rico,

Salam kenal juga ya 🙂

Wah kebetulan banget kamu menemukan buku catatanku. Aku benar-benar butuh buku itu! Tapi, sayangnya sekarang aku nggak bisa mampir ke kafemu, karena aku sedang di luar kota.

Kalau kamu nggak keberatan, bukunya bisa kamu kirimkan ke alamat ini:

Jl. Hamka no. 50 kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.

Thanks a lot, Rico.

 

 PS: beri tahu aku kalau bukunya sudah dikirim ya!

 

Regards,

 

Nia Sarasvati.

 

Pesan Nia membuat Rico lega sekaligus semakin penasaran. Mengapa Nia pergi ke Pasaman?  Rico pun teringat, bahwa daerah Pasaman termasuk produsen kopi Indonesia yang bagus. Lalu, sedang apakah Nia disana?

Karena rasa penasaran dengan gadis penyuka kopi hitam itu, Rico sekarang tidak hanya ingin mengembalikan buku catatan itu, tetapi Rico juga berniat menemui sang pemilik buku catatan itu.

Berangkatlah Rico ke Pasaman dan sesampainya disana, Ia langsung pergi menuju alamat yang diberikan oleh Nia di dalam e-mail-nya tempo hari.

Setelah bertanya ke beberapa warga, Rico menemukan alamat yang dimaksud. Rico berhenti di depan pagar sebuah bangunan lama yang memiliki halaman luas. Pintu pagar bangunan itu tidak ditutup dan Rico masuk ke dalamnya. Saat masuk, Rico melihat halamannya benar-benar luas dan terdapat banyak biji kopi yang sedang dijemur di halaman itu. Rico terus berjalan menuju pintu masuk bangunan. Semerbak aroma kopi mengundang Rico untuk terus melangkah ke dalam bangunan itu.

Ternyata bangunan lama itu adalah sebuah pabrik kopi Pasaman. Rico terus berjalan menyusuri ruangan-ruangan yang cukup luas berisi biji-biji kopi mentah, ruangan filter kopi, hingga ruangan penggarangan kopi. Tetapi tidak satu pun ruangan yang terdapat sosok seorang gadis. Rico hanya melihat beberapa karyawan pabrik sedang sibuk melakukan pekerjaannya. Rico mulai ragu akan keberadaan Nia di pabrik itu. Apakah Nia benar-benar ada disini?

Walapun ragu, bangunan pabrik masih luas, Rico pun melanjutkan langkahnya dan sampai di depan sebuah ruangan yang sisinya berisi tumpukan karung-karung yang berisi kopi. Sepengatahuannya, ruangan itu adalah gudang penyimpanan kopi mentah. Di tengah ruangan itulah Rico melihat seorang gadis berambut pendek yang dikenalnya.

“Nia! Apa kabar?” Rico segera menghampiri Nia.

Nia menoleh dan sedikit terkejut akan keberadaan Rico.

“Lho, Rico kok kamu ada disini?”

“Kamu tahu, kan. Kamu ingin buku catatanmu kembali, ini.” Jawab Rico sambil memberi buku catatan itu kepada Nia.

“Oh. Terima kasih ya. Tapi.. kenapa kamu juga kesini, Rico?” Nia terlihat bingung.

“Memangnya nggak boleh kalo aku kesini? Kamu sendiri sedang apa, Nia?” Rico balas bertanya.

“Oh ya, aku sedang meliput disini. Ini pabrik kopi yang semua pecinta kopi harus tahu.” Nia mencoba menjelaskan.

“Meliput?” rasa penasaran Rico pun memuncak.

“Ya, aku salah satu Coffee blogger, Rico. Artikelku tentang karakter kopi pasaman akan terbit bulan depan. Hm, Aku pikir kamu juga perlu menyelami kopi disini, deh. Supaya rasa espresso di kafemu itu nggak datar kayak kemarin, hihi.”

Nia menjelaskan kesibukannya dan sedikit menyindir Rico.

“Wah, wah, jadi begitu ya? Oke. Jangan kamu pikir aku tidak tahu cara membuat kopi hitam yang enak, ya. Asal tahu saja, aku suka bereksperimen dengan kopi hitam, tapi para pelangganku tidak pernah peduli. Mereka lebih suka latte.

Walaupun berbicara dengan nada santai, Rico terdengar putus asa. Sehingga Nia tergelitik untuk memberinya semangat.

“Hmm, sayang sekali ya. Gimana kalau kamu coba buat kopi hitam lagi?” kata Nia dengan nada riang.

“Menurutmu aku perlu mencoba lagi, Nia?”

“Harus dong! Kalau kamu berhasil, nanti pasti akan banyak yang beli, kan?”

Nia kini memanas-manasi Rico.

“Hahaha, yakin banget kamu, Nia. Kalau aku berhasil, kamu harus liput kafeku ya? Hehehe.”

Mendengar Rico, Nia hanya memasang tampang skeptis, tetapi kemudian ia tersenyum.

Pertemuan Rico dengan gadis pecinta kopi hitam itu membuat impiannya berkembang lagi. Nia benar, sesuatu kalau terus dicoba pasti akan ada saatnya berhasil. Saat ini pun, Rico sebenarnya telah berhasil menemukan gadis yang dicari-carinya selama ini. Bagi Rico, Nia seperti seratus satu setelah seratus.

***

Leave a comment

June 7, 2015 · 5:53 pm

Senin

Cerita ini adalah ‘rewrite’  dari flash fiction yang ditulis ketika event ‘Tantangan Menulis Bersama Windry‘ 

image source: jazzabellesdiary.blogspot.com

 

I hate Monday.”

Lala menggerutu kesal karena hari ini dia tidak diantar ke sekolah oleh Pak Karto, supir loyal keluarganya. Sementara itu jam tangannya menunjukkan pukul 6.15 pagi, itu berarti waktu dia di perjalanan menuju sekolah tersisa 45 menit lagi. Sementara jarak waktu dari rumahnya yang berada di adalah kurang lebih satu jam, dan hanya satu shift bus yang lewat di halte komplek rumahnya. Semalam kakaknya berpesan akan memakai mobilnya untuk berangkat menghadiri seminar di luar kota pagi-pagi. Sementara itu, Ayahnya berada di luar kota. semua mobil keluarganya tidak ada yang mengganggur.

Dengan langkah cepat lala bergegas dari rumah menuju halte dengan berjalan kaki. “Damn, ke halte kan butuh 5 menit. Semoga bisnya masih ada”

Sesampai di halte, sudah banyak orang yang menunggu, dan saat itu juga bis berhenti di depan halte.

“Padalarang-Alun-Alun Bandung, ayoo.” Sahut kondektur.

Lala langsung lari menuju gerombolan penumpang yang akan naik.

Tak disangka, bis pagi itu sangat penuh. Baru saja lala naik, ibu-ibu, bapak-bapak dan beberapa remaja berdiri disepanjang koridor bis. Lala berusaha mencari ruang untuk berdiri, dan berpegangan dengan hanger.

“permisi!” Tiba-tiba punggung lala tak sengaja menyenggol tangan cowok disebelahnya yang sama-sama kesempitan hingga koin yang digenggamnya jatuh.

“Maaf Kak.”Lala menimpali. Lantas cowok itu menoleh dan tersenyum. Kemudian mengambil beberapa koin yang jatuh.

Lala terdiam menatap wajah cowok itu. Cakep yaa.. Kemudian sebelum Lala menatap lebih lama, kondektur datang menagih ongkos,

sontak Lala mengaduk isi tas untuk menemukan dompet. Ternyata dompetnya tertinggal dan hanya ada uang 2000 rupiah di pojok kantong tasnya.

“Sial gimana nih,dompet gue ketinggalan! maaf pak, segini dulu yah? 1500 nya nyusul.”Lala berkata pada kondektur.

Tiba-tiba cowok yang disebelah Lala berkata “udah, saya bayarin dulu saja.”

“eh..” kata Lala. Sebelum lala lanjut berkata, cowok itu menimpali.

“Ngga masalah, dek.”

Kemudian Lala cepat-cepat berkata,“aduh, makasih ya, Kak..”

Waktu begitu cepat berlalu dan bus telah sampai di halte dekat sekolah Lala. Lala keluar bus dengan susah payah. “Ah, akhirnya nyampe juga.” sahut lala sambil bergegas menuju sekolah.

Tanpa disadarinya, cowok yang sudah membayari Lala ongkos bus juga turun dan berjalan didekatnya.

“Tunggu dek, apa adek sekolah di SMA 25?” sahut cowok berkemeja putih itu kini di berjalan di sebelah Lala.

“Eh Kak, iya. Emang kenapa ya, Kak?”

“Oh gitu, wah kebetulan banget ini hari pertama saya ngajar di SMA 25. Kenalin, saya Raka.” Kata cowok itu sambil tersenyum lagi.

“Aaah??”

Seketika, Lala tak bisa berkata-kata.

***

Leave a comment

June 7, 2015 · 3:47 pm

Raisa – Jatuh Hati

Raisa selalu membawakan lagu dengan gorjes, dan kali ini liriknya juga gorjes sekaliiii… kalau lagu lain mungkin boleh tentang kisah galau cinta tak sampai, patah hati atau gembira karena jadian. Tapi lagu yang satu ini bukan tentang itu, lagu ini lebih tentang menemukan seseorang yang dikagumi, mungkin juga dicintai, tapi bukan jatuh cinta, kalaupun nanti jatuh cinta pun, itu soal nanti. Selamat menikmati 🙂

Raisa – Jatuh Hati

Ada ruang hatiku yang kau temukan
Sempat aku lupakan kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir dirimu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu,tapi bolehkah ku selalu di dekatmu

Ada ruang hatiku kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir dirimu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku selalu di dekatmu

Kau tanya cinta, memang banyak bentuknya
Ku tahu pasti sungguh aku jatuh hati

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir dirimu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku selalu di dekatmu
Tapi bolehkah ku selalu di dekatmu

Leave a comment

Filed under My Playlist

Just another sunday afternoon

Just another sunday afternoon

Chicnova Fashion sweat shirt, 145.740 IDR / Pierre Balmain long skirt, 9.186.670 IDR / Keds sneaker, 571.785 IDR / Stud earrings, 362.805 IDR / Yellow mug, 482.840 IDR / Home decor, 476.420 IDR

Leave a comment

Filed under Uncategorized